Adriano Rusfi, Psi
“A man is a pack of neuron”, begitulah neuroscience pertama kali memperkenalkan dirinya…
Sebenarnya jelas ini adalah penghinaan, atau setidaknya simplifikasi yang kelewatan tentang manusia. Seharusnya manusia marah besar. Seharusnya psikolog, pendidik, bahkan neurolog sekalipun tersinggung berat. Lucunya malah banyak yang welcome.
Aah, tapi nggak aneh kok. Bukankah ketika sains berkata bahwa manusia adalah keturunan kera, manusia anteng-anteng saja tuh.
Harus diakui, kelebihan Neuroscience adalah pada penjelasannya yang sederhana, praktis dan kongkret tentang perangai manusia. Dan bahkan ia bisa langsung tunjukkan relasinya di otak : limbik, pre-frontal cortex, otak reptil, dan seterusnya.
Manusia senang yang simple, praktis, to the point dan all in one. Sejujurnya, neuroscience berhasil mengenyangkan syahwat ilmuwan tentang The theory of everything : satu teori untuk semua. Bukankan kita lebih suka datangi toko serba ada daripada toko tak lengkap ?
Dan Neuroscience begitu pedenya meyakinkan kita : bahwa manusia, dengan segala perangainya, termasuk emosi, rasa, bahkan keimanan, ditentukan, dikendalikan dan diarahkan oleh syaraf-syaraf di otak. Dan itu dia buktikan lewat jejak-jejak yang ada di otak.
Alhamdulillah, seorang neurolog beriman dari Purwokerto mengingatkanku : “Ustadz, Neuroscience itu pseudoscience : cocokologi !!!”… Dan beliau tak main-main, sangat didukung oleh argumentasi-argumentasi ilmiah. Kami sering bertukar data, informasi dan referensi. Beliau geregetan : kok psikolog dan pendidik, Muslim pulak, banyak yang percaya pada sebuah kesemuan.
Belakangan, kami sangat terbantu oleh referensi ilmiah dari Presiden Asosiasi Psikolog Muslim Dunia, DR Bagus Riyono. Seharusnya memang tak perlu heboh, karena itulah sains : bisa benar, bisa salah. Kebenarannya hanya berlaku hingga hari ini. Tak untuk dipuja, dan tak pula untuk ditampik.
Mungkin banyak yang tak percaya : sains punya dongeng-dongengnya sendiri. Toh belakangan Neuroscience makin tahu diri : ternyata hati lebih dominan daripada otak. Seorang neurophysic dari Jerman berkata : soul yang mengendalikan brain. Dan seorang Mu’min berkata : akal itu di hati, dan hati itu di dada (QS Al-Hajj : 46)
Tapi belakangan ada heboh : ketika seorang pembicara parenting dan keluarga membawa-bawa Neuroscience untuk menjelaskan kenapa ayah begini dan bunda begitu.
Mungkin penjelasannya kurang tepat. Tapi percayalah : beliau orang baik, menyenangkan, dengan komunikasi publik yang mengesankan.
Masih teringat saat tahun 2000 – 2008, saat diriku bersama beliau sering menjadi pembicara anti narkoba di BNN DKI Jakarta. Penjelasannya tentang narkoba dan dampaknya selalu saja mudah dan dimengerti. Mudah itu memang asyik.
Dan Neuroscience telah membuat segalanya tentang perilaku manusia dijelaskan dengan begitu mudah. Tapi mudah juga bisa mencelakakan dan melenakan : ada simplifikasi, bermain di permukaan, jauh dari kedalaman hakikat.
Di Psikologi, ada empat aliran besar. Yang paling mudah adalah behaviorisme. Tapi behaviorisme selalu saja dangkal. Pendidikan saat ini dimudahkan oleh digitalisasi, sekaligus didangkalkan olehnya. Dan banyak yang suka kedangkalan : kiat, tips, how to…
Masalahnya, manusia itu bukan makhluk mudah. Ia rumit. Malaikat dan iblis pun salah paham tentangnya, Manusia itu ciptaan Allah tercanggih, sekaligus kompleks. Karena ia Allah tiupkan ruh padanya. Begitu kompleksnya manusia, sehingga Allah ciptakan hati dan otak sekaligus.
Otak adalah information storage and processor semata, sehingga tak pernah dibahas di Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Sedangkan hati adalah pusat kendali perilaku manusia, sehingga dibahas berkali-kali di Al-Qur’an dan As-Sunnah.
