Salah satu hal membuat kita berhenti melangkah adalah kekecewaan. Andai seseorang mampu melangkah lebih tekun, insya Allah ia akan perlahan mencapai apa yang ia tuju.

Namun biasanya, hambatan dan ketidak sesuaian di lapangan membuat kita kecewa, marah, kesal, lalu berhenti melangkah. Kekecewaan ini lahir karena sebuah pengharapan. Besarnya harapan berarti besarnya potensi kekecewaan. Makin besar harapan, makin besar potensi kekecewaan yang kita tanam.

Ada yang menarik pada hadist pertama di arbain an nawawiy. Hadist tersebut berbicara tentang niat. Secara sederhana, potongan hadist tersebut berbunyi seperti ini : “siapa yang hijrah karena wanita yang ingin dinikahinya atau perdagangan yang didambakan, maka ia akan mendapatkannya. Dan barangsiapa yang hijrah karena Allah dan RasulNya, dia akan mendapatkan Allah dan RasulNya.”

Hadist tersebut berbicara tentang sebuah dorongan harapan. Kepada siapakah kita sebenarnya berharap. Risalah nabawi tersebut mendidik kita untuk keluar dari harapan kepada dunia, menuju harapan kepada Allah semata. Karena jika Allah sudah hadir, sebenarnya dunia masalah yang tidak terlalu rumit.

Inilah esensi ikhlas. Asal kata dari murni, tak bercampur dengan yang lain. Jika memang semua karena Allah, maka kita harus membersihkan hati kita dari harapan kepada selainNya.

Waktu kita berjualan, secara manusiawi kita akan berharap bahwa dagangan kita terjual. Harapan tersebut terkadang berbuah kekecewaan manakala dagangan kita tidak laku. Bersyukurlah jika kita dapat mengatasi kekecewaan itu.

Namun dibanyak kesempatan, beberapa orang tidak dapat mengatasinya. Sikapnya langsung melemah, layanan kepada customernya langsung memburuk dan terus banyak mengeluh.

Berjualanlah dengan tangki berharap yang kosong. Jika kita berjualan, cukuplah berharap Allah senang dengan usaha kita, berarti kita mau bekerja, mau berbuat untuk sesama. Ketika berjualan, berarti kita sedang membantu orang untuk mencukupi kebutuhannya, atau menghadirkan solusi ke dalam kehidupannya. Jika dagangan tidak laku, cukuplah ridho Allah jadi jalan terbaik untuk kita.

Berjualan dengan zero expectations akan lebih memberi energi yang konsisten. Ada yang beli kita bersyukur, ditolak pembeli pun kita bersyukur. Apapun respon pembeli, hal itu tidak akan menurunkan kualitas diri kita. Karena tugas seorang hamba adalah ikhtiar, soal hasil itu urusan Allah.

Menjadi pekerja juga demikian, berharaplah pada keridhoan Allah semata. Gaji boleh saja ada. Bonus boleh saja tersedia. Namun janganlah hati berharap pada gaji dan bonus semata. Janganlah jua berharap pada jenjang karir yang mempesona.

Berharap pada gaji, bisa saja menyakitkan. Bisa saja hati menyadari, bahwa ternyata kerja yang telah diabdikan ternyata tak berimbang dengan gaji yang diterima. Sakit nantinya. Berharap bonus juga berbahaya, bisa saja bonus tiada, bisa karena pasar yang melambat, produksi yang tertahan, atau malah karena kejadian alam yang ada diluar kendali kita. Stress jadinya kalau bekerja karena ingin bonus.

Bekerja saja untuk dilihat Allah. Selesaikan tanggung jawab kita sebagai pekerja yang merasa dilihat Allah. Kejar target agar perusahaan bertumbuh, jika perusahaan bertumbuh, akan banyak yang sejahtera. Perusahaan jadi bisa terus bertahan, bisa bayar gaji karyawan, bisa terus berjalan, semoga Allah menilai baik kontribusi kita. Biarlah Allah yang membalas kerja-kerja kita. Pasti Pas! Bahkan lebih dari yang kita kerjakan.

Rendy Saputra
KR Business Notes