Ustadz Adriano Rusfi
Fitrah dalam bahasa Arab bermakna sifat atau keadaan asli yg terbuka. Istilah FITRAH dapat didefenisikan sebagai “KEADAAN BAWAAN YANG TERBUKA”.
Keadaan bawaan anak manusia selalu baik namun karena terbuka maka dapat terkontaminasi. Semakin tua manusia walaupun semakin berpengalaman dan semakin banyak pengetahuan juga semakin terkontaminasi keburukan dunia. Oleh sebab itu semakin tua semakin butuh atau wajib tazkiyatunnafs agar tidak semakin banyak keburukannya.
Fitrah pada anak jauh lebih bersih daripada pada orangtua. Oleh karena itu pula, dalam mendidik dan mengajar, baik orang tua maupun guru hendaknya jangan sok “bersih” tapi mari bertazkiyatunnafs tiap hari!
Bila tidak malah bisa jadi tanpa sadar pendidikan dan pengajaran yang disampaikan malah menggangu perkembangan fitrah anak. Sebagaimana firman Allah :
(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa (QS. An Najm 32)
Fitrah pada anaklah yg mendorong anak suka bermain hujan. Bukankah hujan itu bersih lagi membersihkan? Tapi justru kebanyakan orang tua menyalahi fitrah dalam mendidik anak sehingga melarang mereka untuk main hujan.
Kita bisa lihat bagaimana anak-anak miskin yang ketika hujan deras ini menjadi berkah bagi mereka, karena jika hujan datang mereka bisa mengais rezeki dengan menjadi ojek payung. Tapi meski mereka kehujanan ketika menjadi ojek payung, tapi belum ada ceritanya anak-anak ojek payung ini sakit flu setelah hujan-hujan.
Beda kasus dengan anak anak orang kaya yang dilarang untuk bermain hujan. Sehingga ketika tidak sengaja kehujanan sedikit, langsung sakit flu. Karena selama ini tidak pernah hujan-hujanan sehingga imunitasnya rendah.
Kebanyakan orang tua begitu steril menyelematkan anak-anak dari keburukan karena takut terpengaruh. Tapi ketika kecolongan dan anak mengenal keburukan dari orang lain, maka anak langsung terpapar parah karena sebelumnya tidak mengenalnya.
Dulu ada seorang pakar parenting yang menceritakan bahwa mendidik anak itu sebagaimana proses pembuatan coklat kemasan di pabrik yang higienis. Tidak boleh ada cacat sama sekali dan kebersihanya benar-benar dijaga sehingga steril. Sehingga anak-anak harus di sterilisasi dari keburukan sama sekali agar tidak tercemari keburukan.
Pandangan seperti ini tidaklah tepat, mendidik anak tidak sama seperti membuat coklat kemasan secara steril di pabrik. Anak-anak juga perlu mengenal keburukan dengan cara yang benar dan dari orang yang tepat, karena jika anak mengenal dari orang lain dengan cara yang keliru, maka kelak anak-anak akan mudah terjerumus dan jika sudah terpaparah parah akan lebih sulit mengobatinya.
Kita tidak akan mengenal terang jika tidak pernah merasakan kegelapan.Kita tidak akan mengenal kebahagiaan jika tidak pernah merasakan kesedihan. Dan kita tidak akan memahami kebaikan kalau tidak mengenal keburukan. Maka itu, imunisasi lebih baik daripada sterilisasi.
