Igo Chaniago
Direktur Indahnya Sedekah Foundation
Selama ini, saya berpikir bahwa akhirat itu lebih penting daripada dunia. Tapi ternyata itu salah, justru dunia itu lebih penting daripada akhirat. Karena apa yang kita lakukan di dunia, akan menentukan nasib kita di akhirat. Salah satu untuk bekal di akhirat, adalah menjadi RELAWAN KEBAIKAN.
Menjadi relawan, tidak pernah saya tulis dalam daftar impian saya. Terbayangkan pun juga tidak. Tapi takdir Allah menuntun saya, terjerumus ke dunia kerelawanan. Dengan bergabung ke sebuah lembaga kemanusiaan nasional, akhirnya setelah bergabung hampir 10 tahun, saya diamanahi menjadi Branch Manager, dipercaya mengelola dana miliaran. Dan kini belajar mengelola lembaga zakat bersama para relawan kebaikan di Malang, Indahnya Sedekah Foundation.
Mindset saya tentang akhirat itu lebih penting daripada dunia sekarang berubah, setelah 3 hari berturut-turut. Allah pertemukan saya dengan para guru-guru kehidupan.
PERTAMA, tanpa direncanakan guru saya dari Bogor, Ustadz Wahyudi. Beliau mendadak silaturahim ke Malang. Rindu bertemu dengan para subhan untuk menguatkan jaringan dakwah kami.
Beliau dengan runut menceritakan bagaimana perjuangan Rasulullah dalam berdakwah, mulai berdakwah dengan sedikit pengikut, jatuh bertubi-tubi, dilempari batu, gagal mengajak para pemimpin masuk islam berkali-kali, dikhianati oleh para munafiqin, hingga merasa sendiri, dan akhirnya jutaan umat kini memeluk Islam.
Point pentingnya, Rasulullah berdakwah tidak mencari keduniawian. Karena jika Rasulullah ingin kekuasaan dan kekayaan, dulu petinggi Quraisy menawari kekuasaan dan kekayaan tapi beliau tolak semua.
Umat islam saat ini terbelah, karena memang sengaja dipecah-pecah menjadi negara-negara, ormas dan partai politik, dan masing-masing berebut kue kekuasaan.
Sehingga muncul fanatisme, merasa kelompoknya adalah yang terbaik dan merasa lebih baik daripada kelompok yang lain, sehingga umat muslim sulit bersatu.
Terbaru, Indonesia dan 7 negara muslim lainnya, justru ikut bergabung dalam “Board Of Peace” yang dipimpin Donald Trumph. Untuk membangun kembali Gaza yang dihancurkan Israel, tanpa melibatkan Palestina. Padahal kita tahu, Amerika yang sok menjadi polisi dunia. Justru kemarin menculik presiden Venezuela, membuat warga Iran rusuh, dan berencana menganeksasi Greenland.
Bahkan kedua ormas islam terbesar di negeri ini, NU & Muhammadiyah juga ikut dibelah, dengan iming-iming kekuasaan untuk mengelola tambang. Apa hubungannya para ulama yang ahli agama diberi kekuasaan untuk mengelola tambang? Sungguh, kehancuran akan terjadi jika sebuah perkara diberikan bukan pada ahlinya.
KEDUA, saya bertemu lagi dengan guru saya dari Bandung, Ustadz Adriano Rusfi. Psikolog anti mainstream yang kreatif dan seringkali menemukan teori-teori baru dan melawan teori raksasa. Beliau diundang oleh komunitas HEbAT, sebuah komunitas parenting yang mendakwahkan pentingnya Home Education sebagai kewajiban bagi setiap pendidik rumahan. Kali ini tema kajiannya tentang Neuroscience dalam pengasuhan anak.
Point pentingnya, pendidikan utama adalah mendidik hati, bukan otak. Banyak orang tua yang terlalu cepat menggegas anak-anaknya untuk mempercepat perkembangan otaknya, IQ tinggi, pintar matematika, juara lomba science, jago hafalan Al Quran, dan prestasi-prestasi berdasarkan otak yang encer.
Padahal, IQ tinggi tanpa dibarengi hati yang peka. Jadilah mereka ilmuwan yang culas dan merusak alam, pejabat yang pintar yang tak punya hati, akan tega mengkorupsi uang rakyat, bahkan disebutkan dalam hadits akhir zaman, bahwa para munafiqun akan muncul dari mereka yang hafal Al Quran. Karena hafalan mereka hanya sampai kerongkongan, tidak masuk ke hati yang terdalam.
KETIGA, saya belajar tentang kepemimpinan dari guru saya di Grounded Academy. Master G-Coach Abi Darwis. Yang kali ini diundang oleh Forum Zakat (FOZ) Malang Raya. Bertempat di Hall KEMENAG, beliau dengan suara khas yang tegas, menekankan tentang pentingnya seorang LEADER untuk menemukan PURPOSE dalam memimpin organisasi.
Banyak anak buah yang sudah kehilangan arah, karena pimpinannya sudah kehilangan harapan. Sehingga mereka bekerja tidak displin, tidak amanah, dan akhirnya tidak bisa mencapai target organisasi. Bahkan banyak para LEADER yang tidak berani membuat target setinggi mungkin karena pesimis dan hanya punya harapan yang tipis, setipis tissue. Dengan alasan agar targetnya selalu achieve.
Maka seorang LEADER harus punya MAKNA kehidupan, bekerja tak hanya sekedar untuk mencari nafkah anak dan istri. Seorang karyawan tidak bekerja hanya karena mengejar karir. Seorang pengusaha berbisnis tidak hanya mengejar omset semata.
Tapi seorang LEADER harus tahu, apa MAKNA kita bekerja. Legacy apa yang ingin kita wujudkan untuk mencetak sejarah. Ketika kita sudah meninggalkan dunia yang fana ini, kita akan dikenal sebagai siapa.
Bahkan ketika seorang LEADER berjuang sendiri, ditinggal rekan seperjuangan, dan rela bekerja meski tidak mendapat gaji, keuntungan atau jabatan. Karena seorang LEADER sejati seharusnya bukan hanya mengejar ambisi, tapi mengejar misi kehidupan.
Ingin jadi RELAWAN KEBAIKAN di bulan Ramadhan? Silahkan hubungi Call Center Indahnya Sedekah Foundation di nomor : 0878.0388.8844
www.isf.or.id
