Seorang pakar parenting mengatakan, “Kalau kamu terus menyelamatkan suamimu, jangan heran kalau kamu capek seumur hidup.”

Kalimat ini terdengar keras, tapi banyak istri mengalaminya diam-diam. Ketika istri sudah jungkir balik membantu urusan nafkah, justru suami malah terbuai dan terlena dengan berleha-leha. Merasa istri sudah bisa menopang kebutuhan keluarga, suami malah asyik main HP, nongkrong dengan teman, atau justru terjerumus dalam judi online.

Bahkan beberapa istri nekad menjadi TKW (Tenaga Kerja Wanita) dengan bekerja sebagai pembantu rumah tangga, karena suami tak bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga atau karena terlilit hutang. Sehingga pusing dikejar-kejar debt collector.

Namun sayangnya, justru fakta di lapangan suami yang ditinggal istrinya bekerja diluar negeri. Malah selingkuh atau nikah lagi, karena tak bisa menahan hajat biologisnya. Dan ini terbukti dari data di Pengadilan Agama, meski ekonomi keluarga telah membaik ketika TKW bekerja diluar negeri, data menunjukan bahwa perceraian tertinggi mayoritas diajukan oleh perempuan migran.

Banyak perempuan bangga karena merasa kuat. Bekerja sebagai wanita karir, berpenghasilan besar bahkan melebihi penghasilan suami, selalu sigap di semua sisi. Istri awalnya ingin membantu, lama-lama malah memikul hampir semua beban. Di titik itu, istri sering lupa satu hal penting, TETAP POSISIKAN DIRIMU SEBAGAI ISTRI.

Suami yang tulus sebenarnya tidak pernah ingin melihat istrinya kerepotan sendirian. Meski mungkin belum mapan, belum rapi secara ekonomi, tapi hatinya tergerak untuk bertanggung jawab.

Masalah muncul ketika istri terlalu cepat menutup semua celah. Semua ditangani, semua dibereskan, semua diselamatkan. Pelan-pelan, suami tidak belajar dewasa. Bukan karena ia buruk, tapi karena tidak pernah diberi ruang untuk berjuang.

Akhirnya yang terjadi adalah pola : istri makin sibuk, istri makin lelah, istri makin pontang-panting. Sementara suami terbuai dan terlena, karena terbiasa ada istri yang menopang di belakangnya.

Perempuan sering lupa bahwa ia tidak diciptakan untuk menanggung segalanya. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, karena perempuan diciptakan untuk menerima dengan tenang, dan lelaki diciptakan untuk memberi dengan tanggung jawab.

Saat kodrat ini tertukar, rumah tangga kehilangan keseimbangan. Istri merasa tidak dihargai. Suami kehilangan dorongan untuk bertumbuh. Membantu suami itu baik. Mendukung suami itu mulia. Tapi membantu tanpa batas, akan menjadikanmu lelah tanpa akhir.

Istri yang bijak bukan yang paling kuat, melainkan yang tahu kapan membantu dan kapan memberi ruang agar suaminya belajar berdiri menegakan tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Karena rumah tangga yang sehat bukan dibangun oleh istri yang menyelamatkan, tapi oleh suami yang bertanggung jawab dan istri yang tahu tempatnya dengan tenang.

Para ayah… Tanggung jawabmu amatlah berat. Kasihanilah istrimu jika dia harus mengambil alih peranmu. Maka jadilah laki-laki super, layaknya FATHERMAN!