Oleh : Misbahul Huda
*Spiritual Family Parenting
Dalam Al Quran, tokoh-tokoh pengasuhan justru mengedapankan ayah sebagai tokoh. Ada Luqmanul Hakim, Nabi Ibrahim, Nabi Ya’kub, Nabi Imron dan lainnya. Mereka adalah contoh Ayah yang diabadikan nama besarnya dalam Al Quran.
Ibnu Qoyim dalam kitab Tuhfatul Maudud berkata : Jika terjadi kerusakan pada anak, penyebab utamanya adalah sang Ayah. Ingatlah! Seorang anak bernasab kepada Ayahnya, bukan ibu. Nasab yang merujuk pada ayah menunjukkan kepada siapa Allah pertanggungjawaban kelak
Naifnya, negeri ini hampir kehilangan Ayah. .Semua pengajar anak di usia dini didominasi oleh kaum ibu. Pantaslah negeri kita dicap sebagai fatherless country. Padahal keberanian, kemandirian dan ketegasan harus diajarkan usia dini. Ayahlah yang seharusnya menjadi pengajar utama di rumah.
Jika seseorang yang memiliki anak sudah berani mengaku-ngaku jadi Ayah, maka sama anehnya dengan orang yang punya bola ngaku-ngaku jadi pemain bola. Ayah itu gelar khusus nan mulia untuk lelaki yang mau dan pandai mengasuh anak, bukan sekadar ‘membuat’ anak dan menafkahinya.
Ayah yang tugasnya cuma memberi uang, menyamakan dirinya dengan mesin ATM. Akan didatangi saat anak butuh uang saja. Akibatnya, hilangnya fungsi tarbiyah dari sang.Ayah.
Selaku Ayah, layaknya kepala sekolah, harus menentukan visi pengasuhan bagi anak sekaligus mengevaluasinya. Ayah juga harus membuat nyaman suasana ‘sekolah’ yaitu ibunya, dengan menyediakan rumah yang cukup memadai dan kendaraan serta uang belanja yang mencukupi.
Ayah sebagai kepala sekolah, juga harus memastikan mental spiritual anak-anak tumbuh normal, sesuai dengan jenis kelamin dan masa perkembangan usianya.
Menyedihkan, banyak Ayah yang tidak tahu kapan anak lelakinya pertama kali mimpi basah (akil baligh), atau anak wanitanya menstruasi. Sementara anak dituntut sholat shubuh padahal ia dalam keadaan junub. Sholatnya tidak sah. Dimana tanggungjawab Ayah ?
Sebagai Ayah ‘kepala sekolah’, harus membangun tradisi ibadah dan akhlak anak-anak dengan mengajak, bukan membentak. Selaku pengasuh harus hadir dahulu di mushola atau masjid, lalu mengajak anaknya agar ia merasa tenteram berlama-lama di dalamnya.
Sering saya berboncengan motor untuk jamaah shubuh di masjid, terkadang rela harus terlambat berjamaah (masbuk) hanya gara-gara terlalu lama membangunkan Fauzan.
Terkadang saya juga minta diantar (disopiri) Nukman atau Fauzan untuk ceramah/dakwah di suatu lokasi yang jauh. Bukan karena tidak mampu menyetir sendiri, tetapi untuk menanamkan nilai, mendampinginya dengan memberi inspirasi.
lbarat burung yang punya dua sayap. Anak membutuhkan kedua-duanya untuk terbang tinggi ke angkasa. Kedua sayap itu adalah Ayah dan lbu. Ibu mengasah kepekaan rasa, Ayah memberi makna terhadap logika. Kedua-duanya dibutuhkan oleh anak.
Jika ibu tak ada, anak jadi kering cinta. Jika Ayah tak ada, anak tak punya kecerdasan logika. Ayah mengajarkan anak menjadi pemimpin yang tegas. Ibu membimbingnya menjadi pemimpin yang peduli. Tegas dan peduli itu sikap utama. Adalah hak anak mendapatkan pengasuh yang lengkap. Ayah terlibat, ibu apalagi.
Ibu memang madrasah pertama seorang anak. Dan ayah yang menjadi kepala sekolahnya. Maka wahai para ayah, sudahkah anda menjadi Kepala Sekolah untuk anak-anakmu di rumah?
