(Ustadz Adriano Rusfi, Psi.)
Abad ke 20 telah melahirkan begitu banyak organisasi dan harakah raksasa, bermodalkan masterplan, strategic planning, fikrah, manhaj, AD/ART, leadership, management dan program. Tapi abad 20 gagal melahirkan ummat, karena nilai-nilai keibuan tak dilibatkan di dalamnya.
Semalam saya berhadapan dengan sekumpulan leader dari sebuah BUMN. Betapa sulitnya mereka membangun kesepakatan dan kebersamaan. Karena diantara mereka miskin followership. Karena followership adalah milik ibu.
Jadi, setelah kita membentuk ego yang kuat pada anak 0 – 7 tahun (Fathership), jangan lupa membangun Mothership-nya antara 7 – 12 tahun. Pada dasarnya anak laki-laki akan lebih dekat dengan ibu, dan anak perempuan Allah dekatkan dengan ayah, sehingga terjadi keseimbangan.
Secara umum, pada usia anak, setiap anak dekat dengan ibunya, karena ibunyalah yang secara harian mendidiknya. Namun setelah anak berusia 10 tahun, ia mulai masuk periode “ditemani”.
Saat itulah ayah harus lebih berperan sebagai Sang Raja Tega dan ibu berperan sebagai Permaisuri Sang Pembasuh Luka.
Followership tak sama dengan ikut-ikutan. Dia adalah seni kepengikutan. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :
“Katakanlah : inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah atas hujjah yang nyata. Aku dan ORANG-ORANG YANG MENGIKUTIKU”
Jadi, followership adalah ilmu dan seni menjadi ma’mum. Yang butuh ilmu bukan hanya imam, tapi juga ma’mum. Ummah tak akan pernah terbentuk, selama kita tak punya ilmu, seni dan keikhlasan menjadi ma’mum.
Ayat Allah tentang “memimpin dan dipimpin” menyebutkan kalimat “Ana wa manit-taba’anii”. Jadi jelas bahwa pemimpin itu satu dan pengikut itu banyak. Bayangkan jika kita tak punya followership.
Itulah sebabnya kenapa di Masjid Salman saya memilih peran sebagai “Ma’mum yang berpengaruh”. Itu pula yang saya lakukan saat dua hari berkolaborasi dengan ustadz Adian Husaini di Jogja : Jadi ma’mum. Kita tak harus selalu menjadi pemimpin. Karena jika semua ingin jadi pemimpin, lantas siapa yang akan jadi ma’mum?
Intinya, usia di atas 7 tahun diantaranya anak belajar sosiabilitas : cinta, tulus, ikhlas, empati, peduli, kebersamaan, dsb. Inilah yang saya maksud dengan mothership.
Saat bicara di sebuah BUMN saya katakan :
“Saya tak tertarik menjadi merek sebuah komputer. Biarlah komputernya bermerek HP, SAMSUNG, ASUS, ACER, NU, MUHAMMADIYAH atau apapun. Tapi saya ingin, ketika prosesornya dibuka, akan terlihat tulisan :
Adriano Inside!!!”
_
