Tengoklah nabi ibrahim, ayahnya para nabi. Allah jadikan namanya sebagai teladan hingga keluarganya pun dipuji untuk seluruh alam. Usaha gigihnya menjadi sosok ayah yang dirindukan anaknya di tengah kesibukannya dakwahnya wajib kita renungkan.
Dimulai dari visinya yang tercatat dalam Al-Quran di surat Ibrahim ayat 35 – 37. Nabi Ibrahim membangun fondasi bagi istrinya selaku eksekutor lapangan. Beliau membangun tahapan pendidikan yang tepat.
Dimulai dari aqidah, lalu ibadah, kemudian akhlak serta life skill menjalani kehidupan dengan menjadi pribadi yang simpatik serta mandiri dalam mencari rezeki. Semuanya teruntai dalam lantunan doa yang indah.
Dari sinilah Nabi Ibrahim mencontohkan bahwa sosok ayah menjadi penentu arah akan tugas pengasuhan. Mau dibawa anak, istri, keluarga kita. Semua tergantung visi dan misi seorang ayah. Ibu selaku pelaksana cuma mengikuti garis besar haluan keluarga yang telah ditetapkan ayah.
Sungguh repot bagi sang ibu jika diamanahkan mengurus anak, tetapi tidak tahu hendak dijadikan apa sang ananda. Ayah menuntut ibu menjadi madrasah pertama bagi anaknya, tapi ayah sendiri lupa bahwa dia adalah kepala sekolahnya yang seharusnya membuat kurikulumnya.
