Definisi durhaka kepada kedua orangtua atau salah satunya, sebagaimana djelaskan oleh Ibnu Hajar al-Haitami, yaitu : 

_”Apabila anak melakukan sesuatu yang dapat menyakiti hati orangtua, walaupun tidak diharamkan apabila dilakukan kepada orang lain_

Ketika anak memalingkan mukanya saat bertemu orang tua, tidak berdiri menyambut kedatangannya, tidak menghiraukan orang tua dan lain sebagainya yang menurut kebiasaan setempat merupakan sesuatu yang menyakitkan hati orangtua. Ini termasuk kedurhakaan pada orang tua. 

Dalam Shahih Bukhâri dan Shahih Muslim Abû Bakràh radhiyallâhu ‘anhu, disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, 

_”Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa terbesar?” Mereka menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Alah dan durhaka kepada kedua orangtua_

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin Ash, Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda. 

_”Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orangtua, rnembunuh dan sumpah palsu.”_

Dan di kitab Ad-Mu’jam Al Ausath dari Jabin bin Abdillah, Imam Ath Thabrani meriwayatkan. Rasulullah Shallallahy ‘alaihi Wasallam menemui kami ketika kami sedang berkumpul. “Beliau bersabda :  

_“Janganlah kalian melakukan perbuatan durhaka kepada kedua orang tuana. Sebab, aroma surge tercium dari jarak seribu tahun perjalanan. Demi Allah! Aromanya tidak akan dapat dicium oleh orang yang durhaka dan memutuskan tali silaturahmi_

Sebagai penutup tentang masalah durhaka kepada orang. Ada sebuah hadits yang diriwavatkan oleh al-Hâkim bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda : 

_”Semua dosa ditunda hukumannya oleh Alah sesuai dengan kehendakNya hingga hari kiamat, kecuali durhaka kepada kedua orang tua. Sesungguhnya Allah Subhânahu wa Tư’alà akan menyegerakan hukumannya bagi si pelaku di kehidupan dunia sebelum mati”_

#TarbiyatulAulad

#ProperthicParenting

#AyahPendidikPeradaban