Rendy Saputra
Kondisi kesejahteraan yang stabil adalah mimpi para pengusaha. Perusahaan yang stabil bertumbuh dari tahun ke tahun adalah impian para pebisnis. Maka marilah kita belajar dari apa yang sudah dikisahkan Al Quran. Mana kehidupan yang dijaga Allah dan berujung pada kemuliaan. Lalu mana kehidupan yang bertabur harta namun berujung pada kehinaan.
Kedua kisah yang sangat bertolak belakang ini terjadi pada kisah Qorun dan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam. Qorun adalah sosok kaya raya yang hidup sezaman dengan Firaun. Ia adalah simbol kesejahteraan yang menopang kezaliman Firaun.
Dan Sulaiman ‘alaihissalam adalah nabi yang dikaruniai banyak kekayaan dan kekuasaan. Kekuasaannya bahkan melintasi pasukan manusia, jin dan binatang. Nabi Sulaiman bahkan memiliki kerajaan yang tidak ada lagi generasi manusia setelahnya memiliki kerajaan tersebut.
Mari lihat bagaimana adab mereka dalam merespon apa yang diberikan oleh Allah azza wa jalla. Kedua sosok ini memiliki adab yang jauh berbeda.
Dia (Qorun) berkata, “Sesungguhnya aku diberi (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.”
Sedangkan Nabi Sulaiman berkata
Dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)
Inilah kedua adab dan sikap yang sangat bertolak belakang, dan akhirnya menentukan alur kehidupan yang terjadi pada keduanya.
Qorun menganggap bahwa semua keberlimpahan yang hadir didalam kehidupannya adalah karena ilmunya sendiri. Karena kehebatannya. Karena keunggulannya. ‘Ilmiin ‘indi, karena ilmu yang ada padaku.
Sementara Nabi Sulaiman ‘alaihissalam memahami bahwa ini semua adalah karunia tuhannya. Hadza min fadhli Robbi, ini karena karunia rabbku. Untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.
Inilah kedua adab yang menentukan. Qorun akhirnya tenggelam dalam kehinaan. Sementara Nabi Sulaiman tegak mulia hingga akhir hidupnya.
Jika Anda memiliki karyawan, mana yang Anda pertahankan. Sosok yang tidak punya adab tetapi pintar. Atau sosok yang tidak pintar tetapi memiliki adab.
Tentunya Anda berharap yang memiliki adab dan pintar. Namun jika diminta memilih, sebagian dari Anda bahkan mempertahankan sosok yang kedua bukan?
Adab diatas ilmu. Itulah rahasia yang jarang diangkat dalam pengajaran bisnis. Bahwa ketika kita memperbaiki adab dalam hidup, sebenarnya karunia bantuan Allah atas bisnis kita akan mengalir dengan sendirinya.
Perjalanan bisnis ini sebenarnya bukan perjalanan pertarungan keilmuwan. Ilmu itu penting, dan akan bermanfaat ketika dibungkus dengan adab. Perjalanan bisnis ini adalah perjalanan adab. Setelah bisnis berjalan baik, bagaimana adab kita kepada Allah. Apakah kita meyakini keberhasilan ini adalah hasil jerih payah kita, atau hanya bantuan Allah semata.
Saya menemukan pola-pola yang berulang. Sahabat-sahabat pengusaha yang angkuh dan seringnya menyakiti perasaan orang lain, hanya berjaya sebentar. Dua-empat tahun lebih sedikit. Andaikata tetap berjalan pun, hanya berpindah pindah dari masalah satu ke masalah yang lain.
Dan pengusaha yang tetap humble dalam kejayaan. Tetap tawadhu dan rendah hati dalam kehebatan cash. Merekalah yang hari demi hari terus mendapat keberuntungan.
Hadir orang-orang hebat yang datang sendiri tanpa diminta. Hadir kesempatan-kesempatan emas yang mendekat sendiri tanpa dicari. Allah ajarkan ilmu terbaik pada sosok-sosok yang penuh adab. Ilmu untuk menaklukkan dunia. Ilmu yang akan membuat dunia tunduk kepada Anda.
KR BUSSINESS NOTED
